Skip to main content

Mimpi Pak Dedhi

Oleh: SuharsoPada: 8/23/2020

Dedhi Suharto

Saya tiba-tiba terkejut sekaligus terharu, di pagi menjelang siang saat sedang menunggu sarapan hari ini (23/08/2020). Senior sekaligus mentor saya yang saat ini sedang sakit dan dirawat di ruang isolasi COVID-19 salah satu rumah sakit di daerah Bogor bercerita tentang mimpinya.

Beliau bernama Dedhi Suharto. Seorang doktor lulusan Institut Pertanian Bogor dan juga pegawai negeri di tempat saya bekerja. Di luar sana beliau lebih dikenal sebagai ustad. Berkat konsistensinya untuk selalu dekat dengan Islam, masjid, dan tentu saja umat.

Di kantor, beliau adalah senior saya. Kami pernah bekerja bersama dalam satu tim. Orangnya sederhana dan dekat dengan anak buah. Kami dalam satu tim lebih merasakan beliau sebagai teman dekat, alih-alih sebagai atasan. Dalam bidang pekerjaan yang menuntut banyak olah pikir sekaligus cara kerja yang taktis kala itu, kami merasakan kehadiran beliau sebagai pemimpin sekaligus mitra kerja yang menyenangkan.

Dalam ruang isolasi yang superduper dingin --meminjam istilah Pak Dedhi-- beliau banyak menulis, lalu membagikannya ke media facebook. Semua itu dilakukan untuk mengusir kejemuan sekaligus melawan hawa dingin yang tiada terkira. Juga untuk mengisi waktu karena ternyata di ruangan seperti itu, sulit sekali untuk bisa tidur.

Banyak yang menyukai tulisan Pak Dedhi dan memberikan komentarnya. Saya termasuk yang selalu mengikuti tulisan-tulisan itu sebagai silent reader. Ringan-ringan saja isinya. Tapi cukup menarik, dengan gaya bertuturnya yang khas. Oiya, Pak Dedhi ini sebetulnya juga seorang penulis buku. Sudah beberapa buku beliau hasilkan. Ada yang berupa novel, ada pula bacaan bernuansa Islami. Jadi, soal kualitas tulisan memang tidak perlu diragukan lagi. 

Beliau juga yang mengenalkan saya tentang gaya menulis yang efektif, termasuk buku referensinya. Yang suka beliau sebut ngabdul razak. Kami berdua sudah saling paham maksudnya jika menyebut hal itu.

Nah, kembali ke soal mimpi, yang membuat saya terkejut dan terharu tadi. Mimpi itu diceritakan juga oleh Pak Dedhi lewat tulisan di facebook hari ini. Sepertinya tulisan itu sudah di-share sejak dini hari. Mungkin sehabis bermimpi. Tapi saya baru sempat membacanya agak siang.

Rupanya setelah kondisi membaik dan dipindahkan ke ruangan yang agak mendingan, Pak Dedhi sudah bisa sedikit-sedikit tidur. Lalu datanglah mimpi itu. Mimpi yang pertama, beliau bertemu dengan Inspektur atau atasan beliau di kantor. Mimpi yang kedua, beliau bertemu dengan saya. Lha dalah.... ono opo iki.

Orang Jawa mengatakan, "Ngimpi kuwi kembange wong turu." Mimpi adalah bunganya orang yang tidur. Boleh saja kita anggap mimpi tersebut hal yang biasa, namun tidak salah juga jika kita memaknainya.

Menariknya, Pak Dedhi mencoba memaknai atau menafsirkannya. Beliau mencoba mengaitkan mimpi itu dengan estafet kepemimpinan di kantor kami. Makna pertemuan dalam mimpi tersebut menurut beliau: bisa saja beliau dan juga saya mendapat amanah mewarisi estafet kepemimpinan itu. Tafsir ini menurut saya sekaligus merupakan doa.

Tentu saja yang namanya tafsir bisa jadi benar, bisa juga salah. Tapi tetap saja: saya amat sangat terharu sekali. Menjadi bagian mimpi dan doa orang yang saleh.

Kiranya Gusti Allah selalu memberkahimu, Pak Dedhi. Juga mengangkat segera sakitmu.

Segera pulih dan berkarya seperti sediakala, ya Pak.

Semoga Gusti Allah Yang Maha Mendengar ngijabahi doa-doamu. Amin.

Comment policy: Silakan tulis komentar sesuai dengan topik postingan. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar